NEWSCAKRAWALA.ID – Paradigma pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Kuningan terus mengalami transformasi ke arah yang lebih humanis, produktif dan berdampak langsung bagi masyarakat.
Warga binaan tidak hanya menjalani pembinaan kepribadian dan kemandirian di dalam tembok Lapas, tetapi juga diberikan kepercayaan dan ruang untuk berkontribusi secara positif bagi lingkungan sekitar.
Hal tersebut diwujudkan secara nyata melalui kegiatan bakti sosial dan kerja bakti yang digelar oleh jajaran Lapas Kelas IIA Kuningan bersama warga binaan di wilayah sekitar Open Camp Lapas Kelas IIA Kuningan, pada Jumat (25/9).
Kegiatan yang dimulai sejak pagi hari tersebut berlangsung penuh semangat kebersamaan dan gotong royong. Dengan mengenakan seragam dan peralatan kebersihan, para petugas Lapas berbaur bersama warga binaan bahu-membahu membersihkan sampah, rumput liar, dan material yang menumpuk di bahu jalan yang selama ini mengganggu keindahan dan kenyamanan lingkungan.
Tidak berhenti pada aksi bersih-bersih, kepedulian yang ditunjukkan Lapas Kuningan jauh lebih dari itu. Petugas bersama warga binaan juga melakukan perbaikan infrastruktur jalan dengan melakukan penutupan dan penambalan sejumlah lubang yang menganga di badan jalan di sekitar Open Camp. Lubang-lubang jalan tersebut selama ini dikeluhkan warga karena rawan menyebabkan kecelakaan, terutama bagi pengendara roda dua. Dengan ditambalnya lubang tersebut, akses jalan kini menjadi lebih aman, nyaman dan layak dilintasi oleh masyarakat.
Kepala Lapas Kelas IIA Kuningan, Eries Sugianto, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar kegiatan seremonial bersih-bersih lingkungan, melainkan merupakan bagian dari strategi pembinaan yang terarah dan berkelanjutan.
Menurutnya, pembinaan di Lapas Kuningan memiliki dua orientasi besar, yakni pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian. Jika pembinaan kemandirian fokus pada keterampilan kerja seperti pertanian, peternakan, kerajinan dan UMKM, maka pembinaan kepribadian difokuskan pada pembentukan mental, karakter, akhlak dan kepedulian sosial warga binaan agar siap kembali ke masyarakat.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin memberikan ruang kepada warga binaan untuk berkontribusi secara positif dan merasakan secara langsung bahwa mereka juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan sekitar,” ujar Eries Sugianto kepada awak media.
Kami ingin mengubah mindset bahwa warga binaan itu bukan hanya objek yang dibina, tapi subjek yang juga mampu membina lingkungan. Ketika mereka diberi kepercayaan untuk turun langsung membantu masyarakat, rasa percaya diri, rasa tanggung jawab dan rasa memiliki terhadap lingkungan itu akan tumbuh dengan sendirinya, tambahnya.
Eries menjelaskan, konsep Open Camp sendiri memang dirancang sebagai wadah pembinaan luar tembok bagi warga binaan yang telah memenuhi syarat dan dinilai berkelakuan baik. Di Open Camp, warga binaan dibina untuk lebih dekat dengan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan produktif dan sosial.
“Kegiatan kerja bakti ini menjadi salah satu sarana untuk menanamkan nilai gotong royong, kedisiplinan, kepedulian, serta tanggung jawab. Ini adalah bekal moral yang jauh lebih penting dari sekadar keterampilan teknis, karena ketika mereka bebas nanti, mereka harus bisa diterima dan hidup berdampingan dengan masyarakat,” jelasnya.
Aksi sosial Lapas Kuningan ini pun mendapat respons positif dan haru dari warga binaan itu sendiri. Salah seorang warga binaan berinisial AM mengaku sangat antusias dan bersyukur bisa dilibatkan dalam kegiatan tersebut.
Baginya, kegiatan ini menjadi momentum untuk membuktikan bahwa dirinya dan rekan-rekan warga binaan lainnya masih memiliki kepedulian dan masih bisa berbuat baik untuk orang lain, meski sedang menjalani masa pidana.
“Kami senang bisa ikut kegiatan seperti ini. Selain lingkungan menjadi lebih bersih dan jalan menjadi lebih baik, kami juga merasa bisa memberikan sesuatu yang bermanfaat untuk masyarakat. Ini menjadi pengalaman bagi kami untuk belajar peduli dan bertanggung jawab,” ungkap AM dengan penuh semangat.
AM berharap kegiatan serupa tidak hanya dilakukan sekali, tetapi terus dilaksanakan secara rutin dan berkelanjutan. Ia menilai kegiatan tersebut menjadi sarana pembelajaran sosial yang sangat berharga sebagai bekal mental sebelum kembali ke tengah keluarga dan masyarakat.
“Kami berharap kegiatan seperti ini terus ada. Ini membuat kami merasa dihargai dan dianggap masih bisa berguna. Jadi bekal buat kami nanti saat kembali ke masyarakat agar bisa lebih peduli dan tidak mengulangi kesalahan,” pungkasnya.
Melalui kegiatan bakti sosial ini, Lapas Kelas IIA Kuningan terus berupaya dan berkomitmen untuk menghadirkan sistem pemasyarakatan yang modern, yaitu pemasyarakatan yang tidak hanya menghukum, tetapi membina, merangkul dan menyiapkan warga binaan untuk benar-benar siap kembali menjadi pribadi yang lebih baik, produktif dan bermanfaat bagi nusa, bangsa dan lingkungan sekitar.
PENULIS : RIYAN












