NEWSCAKRAWALA.ID – Saat sebagian warga Pamekasan masih terlelap, gerbang Lapas Narkotika Kelas IIA Pamekasan sudah dibuka lebih awal, Kamis (5/11/2026). Puluhan warga binaan dari luar daerah dijadwalkan tiba pagi itu.
Total ada 84 orang yang dipindahkan ke Pamekasan. Mereka berasal dari dua tempat berbeda, yakni Lapas Pemuda Madiun dan Rutan Kelas I Surabaya.
Gelombang pertama datang saat fajar. Sekitar pukul 04.30 WIB, iring-iringan kendaraan pengawal dari Madiun memasuki area lapas dengan membawa 50 narapidana.
Empat jam berselang, suasana kembali sibuk. Pukul 08.50 WIB, rombongan kedua tiba dari Surabaya dengan membawa 34 warga binaan lainnya.
Pengawalan dilakukan berlapis. Petugas dari UPT pengirim mengawal langsung sejak keberangkatan, dibantu aparat kepolisian yang memastikan perjalanan berlangsung aman tanpa gangguan.
Satu per Satu Diperiksa, Tidak Ada yang Lolos
Di dalam lapas, jajaran pimpinan sudah menunggu. Kepala Lapas Narkotika Kelas IIA Pamekasan, Kusnan, turun langsung memantau. Ia didampingi pejabat struktural mulai dari registrasi, pengamanan, hingga ketertiban.
Begitu turun dari kendaraan, para warga binaan tidak langsung masuk ke blok hunian. Mereka wajib melewati serangkaian pemeriksaan ketat.
Berkas pemindahan dicek satu per satu. Badan dan barang bawaan digeledah di ruang khusus. Ini dilakukan untuk memastikan tidak ada barang terlarang yang ikut terbawa masuk.
Usai itu, giliran tim medis yang bekerja. Dokter Klinik Pratama Lapas memeriksa kondisi kesehatan masing-masing warga binaan, sebelum mereka dinyatakan layak mengikuti pembinaan.
Baru setelah semua dinyatakan beres, mereka mendapatkan perlengkapan dasar. Mulai dari peralatan mandi, seragam warga binaan, hingga sarapan pagi.
Bukan Sekadar Pindah, Tapi Atur Ulang Beban Lapas
Kalapas Kusnan menegaskan, proses ini bukan sekadar memindahkan penghuni dari satu lapas ke lapas lain. Ada prinsip yang dijaga, keamanan harus ketat, tapi hak dasar warga binaan tidak boleh diabaikan.
> “Penerimaan ini kami jalankan dengan prosedur penuh. Aman, tertib, dan tetap humanis. Kami ingin mereka yang baru datang bisa langsung beradaptasi dan masuk ke program pembinaan,” kata Kusnan.
Di balik pemindahan ini, ada misi yang lebih besar. Lapas-lapas di Jawa Timur saat ini banyak yang kelebihan penghuni. Pemindahan menjadi cara untuk menyeimbangkan jumlah hunian, agar pembinaan tidak terganggu karena kepadatan.
Langkah ini sejalan dengan 15 Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, yang menargetkan tata kelola pemasyarakatan yang lebih proporsional dan optimal.
Dengan tambahan 84 warga binaan ini, Lapas Narkotika Pamekasan berkomitmen menjaga ritme kerja yang sama: pengamanan ketat, pelayanan tertib, dan pembinaan yang tetap berjalan.
REPORTER: NY












