NEWSCAKRAWALA.ID – Peringatan keras kembali disampaikan tenaga medis terkait maraknya penyalahgunaan narkoba.
Mantan Direktur Rumah Sakit Islam RSI Ibnu Sina Yarsi Simpang Empat, dr. Elfizon Amir, Sp.PD, menegaskan narkotika dan obat-obatan terlarang adalah “pedang bermata dua”.
Di satu sisi dibutuhkan dunia medis, di sisi lain bisa menjadi racun paling mematikan jika disalahgunakan tanpa pengawasan dokter.
Elfizon mengurai akan bahaya narkoba dari sudut pandang medis. Ia khawatir minimnya edukasi membuat generasi muda menganggap narkoba sebagai “pelarian” atau “gaya hidup”, padahal risikonya adalah kehancuran fisik dan mental permanen.
Elfizon mengawali penjelasannya dengan meluruskan stigma bahwa narkoba dalam istilah medis disebut narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya. Zat ini memang tidak bisa dihapus dari dunia kesehatan, Kamis 4 Juni 2026.
“Untuk urusan medis tertentu, bahan narkotika sangat dibutuhkan di rumah sakit atau Puskesmas. Contohnya morfin untuk pasien kanker stadium akhir yang kesakitannya luar biasa, fentanil untuk pembiusan saat operasi besar, atau diazepam untuk mengatasi kejang. Tapi semua ada aturannya. Ada resep dokter, ada dosis pasti, ada pengawasan ketat. Itu namanya terapi dan menyelamatkan nyawa,” jelas dokter yang puluhan tahun mengabdi di RSI Ibnu Sina Simpang Empat ini.
Ia melanjutkan, masalah muncul ketika zat yang sama digunakan di luar indikasi medis, tanpa resep, dengan dosis berlebih, dan tujuan untuk “fly” atau melarikan diri dari masalah. Di titik inilah narkoba berubah fungsi dari obat menjadi racun.
“Bahaya utama narkoba pada manusia adalah kerusakan otak permanen, gangguan fungsi organ vital seperti jantung, hati, ginjal, gangguan mental parah, hingga risiko overdosis yang berujung pada kematian. Zat adiktif di dalamnya bekerja cepat merusak sistem saraf pusat dan mengubah cara kerja seluruh tubuh secara drastis,” tegasnya.
Menurut Elfizon, narkoba tidak menyerang satu organ saja. Efeknya sistemik. Ia merinci berdasarkan organ vital manusia diantaranya adalah
Otak adalah organ pertama dan paling fatal diserang. Narkoba jenis sabu, kokain, heroin, dan ekstasi menyebabkan kematian sel saraf atau neuron. Akibatnya volume otak menyusut. Pembuluh darah otak jadi rapuh dan mudah pecah, memicu stroke pada usia muda.
“Pasien pengguna sabu jangka panjang yang saya tangani sering datang dengan keluhan pikun, sulit konsentrasi, daya ingat anjlok. Umurnya masih muda tapi kemampuan berpikirnya seperti orang lanjut usia. Kerusakan ini permanen dan tidak bisa kembali seratus persen meski sudah berhenti,” ungkapnya.
Zat stimulan seperti sabu dan kokain memaksa jantung berdetak sangat cepat dan tekanan darah melonjak. Jantung bekerja rodi tanpa henti.
Risikonya adalah serangan jantung mendadak, aritmia atau detak jantung tidak beraturan, stroke, hingga aneurisma pembuluh darah otak. Elfizon menyebut banyak kasus kematian mendadak pada anak muda di tempat hiburan berawal dari jantung yang “copot” karena overdosis stimulan.
Pengguna ganja, sabu, atau heroin yang dibakar dan dihirup akan merusak silia dan kantong udara di paru. Lama-lama paru jadi hitam seperti paru perokok berat.
“Gangguan pernapasan kronis, bronkitis, PPOK, bahkan kanker paru bisa muncul. Pengguna akan batuk terus, sesak napas saat jalan sedikit, dan oksigen dalam darahnya rendah,” jelasnya.
Dan organ Hati berfungsi menyaring racun. Narkoba adalah racun paling berat. Hati dipaksa bekerja lembur hingga sel-selnya mati. Hasilnya hepatitis toksik, sirosis, hingga gagal hati.
Kondisi ini diperparah jika pengguna juga minum alkohol. Kombinasi alkohol dengan narkoba adalah “bom waktu” untuk hati.
Khusus ekstasi atau inex, bahayanya adalah dehidrasi ekstrem dan kenaikan suhu tubuh sangat tinggi. Kondisi ini disebut “heat stroke” dan merusak otot. Otot yang hancur menyumbat ginjal.
“Pasien bisa langsung gagal ginjal akut. Dalam hitungan jam harus cuci darah. Kalau terlambat, nyawa tidak tertolong,” kata Elfizon.
Pengguna sabu jangka panjang sering mengalami gigi hancur, rapuh, dan hitam. Tulang juga keropos karena tubuh kekurangan kalsium dan nutrisi. Wajah jadi tirus dan menua sebelum waktunya.
Kerusakan fisik bisa terlihat, tapi kerusakan mental lebih mengerikan karena “mencuri” jati diri seseorang.
Kata Elfizon, kecanduan atau Adiksi Narkoba membajak sistem reward di otak. Dopamin, hormon rasa senang, diproduksi berlebihan. Lama-lama otak tidak bisa merasa senang tanpa narkoba. Pengguna kehilangan kendali dan akan melakukan apa saja demi mendapatkan barang haram itu.
Yang nantinya timbul halusinasi visual, auditori, raba adalah efek umum. Pengguna melihat bayangan, mendengar bisikan, merasa kulitnya digigit semut. Disertai paranoid berat: curiga semua orang mau membunuhnya. Kondisi ini sering berujung pada kekerasan atau bunuh diri.
Setelah efek “fly” hilang, pengguna jatuh ke fase “crash” – depresi berat, cemas berlebihan, tidak ada semangat hidup. Penggunaan jangka panjang bisa memicu skizofrenia, yaitu gangguan jiwa berat di mana penderita sulit membedakan realita dan halusinasi.
Zat psikoaktif merusak hippocampus, bagian otak untuk memori. Pengguna jadi pelupa, tidak bisa fokus belajar atau bekerja, dan kemampuan memecahkan masalah hancur.
Kenapa Narkoba begitu berbahaya? Inilah beberapa penjelasan alasan utama yang disebutkan Elfizon
Pertama adalah adiktif. Sekali coba bisa langsung kecanduan, tergantung jenisnya.
Kedua yaitu jarak antara dosis mematikan dan dosis “fly” sangat tipis. Salah hitung sedikit langsung overdosis.
Ketiga akan merusak permanen. Tidak seperti luka fisik yang bisa sembuh, sel otak dan sel organ yang mati karena narkoba sulit beregenerasi.
Menutup wawancara, Elfizon berpesan kepada masyarakat Pasaman Barat, khususnya orang tua dan guru.
“Jika melihat anak, saudara, atau tetangga menunjukkan tanda-tanda penyalahgunaan narkoba seperti perubahan perilaku drastis, mata merah, berat badan turun drastis, atau ditemukan alat hisap, jangan langsung menghakimi. Tindakan pertama yang paling benar adalah segera bawa yang bersangkutan ke fasilitas kesehatan terdekat. IGD RSUD, Puskesmas, atau RSI Ibnu Sina. Katakan sejujurnya ke dokter agar dapat pertolongan cepat,” pesannya.
Ia menegaskan overdosis narkoba bisa membunuh dalam hitungan menit. Rasa takut “ketahuan polisi” tidak boleh mengalahkan rasa menyelamatkan nyawa.
“Ingat, narkoba bukan solusi. Narkoba adalah jalan pintas menuju kubur. Generasi muda Pasaman Barat harus kuat, berprestasi, bukan hancur karena barang haram ini,” tutupnya.
Penulis : Jeni










