NEWSCAKRAWALA.ID — Langit di atas Kabupaten Pasaman Barat berubah kelabu. Kabut asap yang menyelimuti wilayah itu selama beberapa hari terakhir membuat kualitas udara memburuk dan masuk kategori tidak sehat.
Sejak awal pekan ini, warga di sejumlah kecamatan di Pasaman Barat mulai merasakan perubahan kualitas udara yang signifikan. Pada pagi hari, kabut tebal menyelimuti pemukiman, jalan raya, dan lahan pertanian. Jarak pandang yang biasanya bisa mencapai puluhan meter kini menyusut drastis, hanya beberapa meter saja. Bau asap yang menyengat mulai tercium hingga ke dalam rumah, bahkan ketika pintu dan jendela sudah tertutup rapat.
Kondisi tersebut semakin parah pada Kamis, 15 Oktober 2026. Pemantauan terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) menunjukkan, pencemaran udara telah melanda seluruh 11 kecamatan di Pasaman Barat. Tidak ada satu pun kecamatan yang luput dari paparan kabut asap ini.
Data yang dirilis BMKG dan GAW menjadi acuan utama bagi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pasaman Barat untuk menyatakan bahwa kualitas udara di daerah itu telah berada pada status yang membahayakan. Pemantauan dilakukan di sejumlah titik yang tersebar di wilayah pesisir hingga wilayah perbukitan, dan hasilnya menunjukkan angka pencemar udara yang terus meningkat.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pasaman Barat, Natran Handri, mengatakan pihaknya telah menyampaikan imbauan kepada masyarakat untuk menghentikan aktivitas pembakaran lahan dan hutan yang dapat memperparah kondisi.
“Kualitas udara saat ini kategori tidak sehat. Kami minta masyarakat tidak membakar lahan dan hutan,” ujar Natran.
Ia menjelaskan, pembakaran lahan dan hutan, baik yang dilakukan untuk membuka lahan pertanian maupun untuk membersihkan kebun, menjadi salah satu faktor utama yang memicu memburuknya kualitas udara. Pada musim kemarau seperti sekarang, api yang dibiarkan menyebar dengan cepat dapat membakar lahan dalam skala luas dan menghasilkan asap dalam jumlah besar.
“Kami sudah memberikan imbauan dan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membakar lahan dan hutan agar kualitas udara tidak semakin buruk. Ini harus jadi perhatian kita semua, karena dampaknya tidak hanya dirasakan oleh satu orang, tapi oleh seluruh masyarakat,” kata Natran menambahkan.
Pemerintah Siaga, Koordinasi Lintas Sektor Diperkuat
Dinas Lingkungan Hidup saat ini juga bersiaga bersama Dinas Kesehatan, PMI, dan pemerintah kecamatan untuk memantau dampak kesehatan yang ditimbulkan kabut asap. Warga diminta mengurangi aktivitas di luar rumah, terutama bagi kelompok yang rentan terhadap gangguan pernapasan.
“Kegiatan luar rumah kalau tidak mendesak, sebaiknya ditunda dulu,” kata dia.
Apa Artinya Kategori Tidak Sehat?
Dalam sistem Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU), kualitas udara dikelompokkan menjadi lima kategori, yakni baik (0-50), sedang (51-100), tidak sehat (101-200), sangat tidak sehat (201-300), dan berbahaya (lebih dari 300). Kategori tidak sehat yang saat ini dialami Pasaman Barat berada pada rentang 101-200 dengan indikator warna oranye.
Gejala yang paling sering dikeluhkan warga antara lain batuk, sesak napas, tenggorokan gatal, mata perih dan berair, pilek, hingga sakit kepala.
Aktivitas Sekolah Dihentikan Sementara, Ribuan Siswa Belajar Daring
Kondisi udara yang memburuk membuat Dinas Pendidikan Pasaman Barat mengambil langkah cepat. Pembelajaran tatap muka untuk sementara dihentikan dan diganti dengan sistem jarak jauh.
Kepala Dinas Pendidikan Pasaman Barat, Imter Pedri, menyebut kebijakan tersebut berlaku untuk semua jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP, hingga SKB dan PKBM. Pembelajaran jarak jauh ini diberlakukan mulai Kamis 15 Oktober hingga Sabtu 17 Oktober 2026.
Keputusan itu diambil setelah Dinas Pendidikan berkoordinasi dengan seluruh koordinator wilayah kecamatan serta melihat laporan resmi dari BMKG.
“Kami koordinasikan dulu dengan wilayah per kecamatan, lalu melihat hasil BMKG. Keputusannya anak-anak belajar dari rumah,” jelas Imter.
Kebijakan tersebut mengacu pada Surat Edaran Nomor 400.3/2193/DISDIK-2026 tentang Pengalihan Pembelajaran Tatap Muka Menjadi Pembelajaran Jarak Jauh Dampak Kabut Asap.
Dampak ke Ekonomi dan Aktivitas Warga
Tidak hanya sektor pendidikan, kabut asap juga berdampak pada aktivitas ekonomi masyarakat. Sejumlah pedagang di Pasar Simpang Empat mengaku omzet mereka menurun drastis dalam beberapa hari terakhir karena masyarakat lebih memilih bertahan di rumah.
Para petani di Pasaman Barat juga mengeluhkan kondisi ini. Jarak pandang yang terbatas membuat aktivitas di sawah dan kebun menjadi tidak nyaman, sementara paparan asap yang terus-menerus membuat tubuh mudah lelah dan mata perih.
Warga Mulai Rasakan Dampaknya
Sejumlah warga yang ditemui mengaku sudah mulai merasakan dampak kesehatan dari kabut asap. Mereka mengeluhkan mata pedih, tenggorokan gatal, dan napas yang terasa berat, terutama pada pagi dan sore hari ketika asap terasa lebih pekat.
Warga berharap pemerintah tidak hanya memberikan imbauan, tetapi juga melakukan upaya konkret untuk mengatasi sumber asap, termasuk patroli dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan dan hutan.
Pemerintah Daerah Imbau Masyarakat Tetap Tenang
Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat untuk selalu memakai masker saat berada di luar ruangan dan segera memeriksakan diri ke puskesmas terdekat jika mengalami batuk, sesak napas, atau mata perih akibat terpapar asap.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah daerah masih terus memantau perkembangan kondisi udara dan berharap dalam beberapa hari ke depan hujan akan turun dan membantu membersihkan udara.
REPORTER : JENI












