Mulok Bahasa Banua Langkah Awal Pelestarian Budaya Berau

Foto : Sekretaris Komisi I DPRD Berau, Frans Lewi, menilai Mulok Bahasa Banua jadi langkah awal pelestarian budaya Berau. Ia mengingatkan agar pengaplikasiannya tidak terburu-buru dan guru harus benar-benar paham materi. Tanjung Redeb, Senin (27/4/2026).

NEWSCAKRAWALA.IDTanjung Redeb

Penerapan Bahasa Banua sebagai muatan lokal (mulok) di tingkat SMP se-Kabupaten Berau mendapatkan respon yang sangat baik dari DPRD Berau. Sekretaris Komisi I DPRD Berau, Frans Lewi, menyebut dengan adanya mulok itu menjadi salah satu upaya dalam pelestarian budaya Berau.

Pengenalan bahasa dan budaya lokal sejak dini memang sangat penting, untuk membangun identitas generasi muda. Dan hal ini juga sudah banyak diterapkan di sekolah-sekolah di luar Berau.

“Ini langkah yang baik untuk menjaga warisan budaya kita. Anak-anak perlu mengenal bahasa daerahnya agar tidak hilang ditelan zaman. Seperti di Pulau Jawa itu sudah ada mulok Bahasa Jawa juga,” ujarnya ditemui Senin (27/6/2026) sore.

Meskipun sangat berdampak positif, Frans Lewi juga mengingatkan agar pengaplikasian mulok ini tak terburu-buru. Persiapan mulai dari SDM hingga materi pembelajaran juga harus matang.

“Jangan sampai hanya formalitas. Harus dipastikan guru yang mengajar benar-benar memahami Bahasa Banua dan metode pengajarannya juga jelas,” tegasnya.

Ia juga mendorong Dinas Pendidikan untuk memberikan pelatihan atau pembekalan kepada para guru yang akan mengampu mata pelajaran tersebut. Menurutnya, hal ini penting agar kualitas pembelajaran tetap terjaga di seluruh sekolah.

Selain itu, Frans menilai muatan pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada bahasa, tetapi juga budaya seperti kuliner, seni, dan tradisi, merupakan nilai tambah yang dapat memperkaya wawasan siswa.

“Kalau dikemas dengan baik, ini bisa menjadi pelajaran yang menarik dan tidak membosankan bagi siswa,” imbuhnya. (Adv)

 

 

Reporter : SW

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *