NEWSCAKRAWALA.ID – Bendera Merah Putih berkibar gagah di daratan. Tapi di laut Masalembu, bendera harapan nelayan kecil kembali terkoyak.
Tepat pada Kamis, 20 Agustus 2026, di tengah peringatan HUT RI ke-81, nelayan Masalembu kembali memergoki dan merekam melalui video aksi kapal purse seine yang dengan leluasa melakukan aktivitas penangkapan ikan tepat di atas rumpon milik nelayan lokal.
Bagi nelayan Masalembu, rumpon bukan sekadar tumpukan pelepah dan bambu di tengah laut. Rumpon adalah warisan leluhur. Rumpon adalah dapur. Rumpon adalah masa depan anak-anak yang sekolahnya dibayar dari hasil laut.
Namun hari ini, ruang hidup itu diinjak. Digerus oleh kapal-kapal besar dengan alat tangkap masif yang dalam hitungan jam bisa menghabiskan ikan yang seharusnya menjadi rezeki nelayan kecil selama sebulan.
Rawatan Samudra dengan tegas menolak jika aksi ini disebut sebagai bentuk permusuhan antar nelayan. Laut adalah milik bersama. Tapi kebersamaan itu harus ada aturan dan rasa hormat, Sabtu 22 Agustus 2026
“Kami tidak melarang siapa pun mencari nafkah di laut. Itu hak semua warga negara. Tetapi kami meminta dengan hormat, agar kapal-kapal pendatang menghormati rumpon nelayan lokal. Jangan sampai demi mendapatkan hasil tangkapan yang lebih besar, nelayan kecil justru kehilangan ruang untuk mencari penghidupan,” ujar Rawatan Samudra geram.
Ia mendesak 3 hal kepada seluruh kapal pendatang yang beroperasi di perairan Masalembu:
1. Hentikan aktivitas penangkapan di areal rumpon nelayan lokal.
2. Jaga jarak aman dari rumpon.
3. Hormati rumpon sebagai sumber penghidupan dan harga diri nelayan setempat.
Momen HUT RI ke-81 seharusnya menjadi perayaan. Tapi bagi nelayan Masalembu, ia menjadi pengingat pahit. Bahwa kemerdekaan belum sepenuhnya hadir di laut.
“Selama 81 tahun merdeka, nelayan kecil masih harus bertaruh nyawa dan berjuang mempertahankan ruang lautnya sendiri. Negara mana yang merdeka jika rakyatnya takut melaut di negerinya sendiri?” tegas Rawatan Samudra.
Ia mengajak seluruh nelayan Masalembu untuk tetap bersatu, tidak terpancing emosi, menjaga laut dan rumpon, serta melaporkan setiap pelanggaran secara tertib dan berdasarkan fakta di lapangan.
Rawatan Samudra menuntut kehadiran nyata pemerintah. Dinas Kelautan dan Perikanan, TNI AL, Bakamla, dan Polairud diminta segera melakukan patroli dan pengawasan ketat di perairan Masalembu.
“Kami tidak ingin ada konflik. Kami hanya ingin keadilan. Tegakkan hukum di laut. Lindungi nelayan kecil. Sebelum semuanya terlambat,” pungkasnya.
Ia menutup dengan pesan yang menggema di tengah ombak:
“Laut Masalembu bukan sekadar hamparan air. Laut adalah rumah, sumber kehidupan, dan masa depan anak-anak nelayan kami.”
Reporter : amin












