Daerah  

Dari Tunai ke Scan: Kisah Toko Sembako di Pakong yang Kini Go Digital Berkat Mahasiswa KKN

KETERANGAN FOTO: Mahasiswa KKN Posko 15 UIN Madura berfoto bersama pemilik Toko Al-Arab Azizah di Desa Bandungan, Kecamatan Pakong, Pamekasan setelah melaksanakan program pendampingan pembuatan QRIS, Kamis 20 Agustus 2026..

NEWSCAKRAWALA.ID  – Dulu, kalau ada pembeli datang ke Toko Al-Arab Azizah tapi tidak bawa uang pas, urusannya jadi batal. Sekarang beda.

Sejak awal Agustus 2026, warung sembako di Desa Bandungan, Kecamatan Pakong ini sudah menerima pembayaran pakai QRIS.

Perubahan itu datang setelah mahasiswa KKN Posko 15 UIN Madura datang ke tokonya. Mereka tidak mengundang ke balai desa. Mereka yang datang.

“Tujuannya simpel, biar tidak ganggu jualan. Kami pasang, kami ajari, langsung bisa dipakai hari itu juga,”kata salah satu mahasiswa KKN.

Prosesnya cepat. Daftar, buat barcode lewat aplikasi GOPAY, cetak, tempel di kasir. Selesai, Kamis 20 Agustus 2026.

Bapak Basid, pemilik toko, mengaku awalnya gagap teknologi. Tapi sekarang sudah terbiasa.

“Dulu mikirnya ribet. Ternyata gampang. Yang paling kerasa, pembeli jadi tidak lari. Kalau tidak ada kembalian, ya tinggal scan. Saya juga enak, tidak perlu pegang uang receh banyak-banyak,” tuturnya.

Langkah kecil ini adalah bagian dari program KKN Posko 15 UIN Madura yang berlangsung 14 Juli – 24 Agustus 2026 di bawah bimbingan DPL Wasilatul Rohmaniyah, M.A.

Dengan menyasar 2 UMKM di Bandungan, mahasiswa berharap digitalisasi bisa jalan terus meski KKN sudah selesai.

Karena buat UMKM seperti Bapak Basid, satu barcode kecil itu artinya: tidak ada lagi omzet yang hilang.

 

 

 

Reporter : Aril

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *