NEWSCAKRAWALA.ID– Ribuan pasang mata yang menghadiri acara purnawiyata Yayasan Kholid bin Walid Pondok Pesantren Addurriyah di Desa Bangkes, Kecamatan Kadur, Kabupaten Pamekasan, Madura, Selasa 23 Juni026
Tak kuasa menahan haru. Momen wisuda yang biasanya diwarnai suka cita, berubah menjadi pemandangan pilu dan bahagia sekaligus: sebuah pertemuan ibu dan anak yang tertunda selama 14 tahun akhirnya terjadi di atas panggung.
Dari ratusan wisudawan yang mengenakan toga, Ilham Andrian Dasilva, siswa Kelas XII Madrasah Aliyah MA Addurriyah, menjadi sosok yang paling menyita perhatian.
Sejak kecil ia tumbuh tanpa kehadiran ibunya. Sang ibu, Sri Rahayu, warga Dusun Kebonduren, Desa Kampungbaru, Kecamatan Kepung, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, memilih merantau menjadi Pekerja Migran Indonesia PMI di Hong Kong demi membantu perekonomian keluarga dan membiayai pendidikan putranya.
Selama belasan tahun, pertemuan mereka hanya terjalin lewat sambungan telepon dan layar gawai. Jarak ribuan kilometer antara Pamekasan dan Hong Kong memisahkan keduanya, sementara kerinduan terus menumpuk tanpa pernah benar-benar terobati.
Pada hari wisuda, Ilham datang tanpa tahu bahwa kejutan besar telah disiapkan. Ketika namanya dipanggil ke atas panggung, ia didampingi Kepala MA Addurriyah Miftahol Munir. Di hadapan para wali santri dan tamu undangan, Miftahol mengajak Ilham berbincang tentang perjalanan hidup dan sosok yang paling ia rindukan.
“Ilham, selama 14 tahun ini siapa sosok yang paling kamu rindukan?” tanya Miftahol di atas panggung.
Dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, Ilham menjawab singkat. “Ibu… saya rindu Ibu,” ucapnya sambil menyeka air mata.
Suasana hening. Layar besar di lokasi acara kemudian menampilkan rekaman video. Dalam tayangan itu, Sri Rahayu menyampaikan pesan khusus dari Hong Kong.
“Selamat wisuda anakku, selamat wisuda kebanggaan Ibu. Jarak mungkin memisahkan kita, tetapi doa dan cinta Ibu akan selalu menyertaimu, Nak. Tunggu Ibu pulang,” ujar Sri Rahayu dalam video tersebut.
Ilham mengira itu hanya pesan biasa. Namun Miftahol kemudian meminta Ilham memejamkan mata sejenak. Setelah dibuka, Ilham diminta mencari sosok ibunya di antara ribuan hadirin.
Perlahan ia memandang ke kerumunan. Tepat di depan panggung, berdiri seorang perempuan berkerudung kuning yang selama ini hanya ia lihat di layar ponsel. Sri Rahayu, sang ibu, telah pulang lebih awal dan bersembunyi di antara tamu undangan.
Tanpa menunggu lama, Ilham berlari turun dari panggung dan memeluk erat ibunya. Tangis yang selama 14 tahun tertahan akhirnya pecah. Sri Rahayu juga tak kuasa menahan tangis sambil memeluk putranya yang kini telah beranjak dewasa.
Suasana haru menjalar ke seluruh penjuru lokasi. Banyak wali santri, guru, hingga tamu undangan ikut menitikkan air mata menyaksikan pertemuan itu.
Bagi sebagian orang, wisuda adalah perayaan kelulusan. Bagi Ilham, hari itu lebih dari sekadar tanda berakhirnya masa belajar di pesantren. Hari itu adalah jawaban atas penantian panjang seorang anak yang selama 14 tahun hanya bisa memeluk ibunya dalam doa.
Dan di sebuah pesantren di pelosok Pamekasan, jarak ribuan kilometer yang memisahkan Indonesia dan Hong Kong akhirnya runtuh oleh sebuah pelukan.
Reporter: Aril












