NEWSCAKRAWALA.ID– Pantai Gandoriah Kota Pariaman meledak. Minggu, 28 Juni 2026, kawasan pesisir itu dipadati ratusan ribu orang. Mereka datang untuk satu tujuan: menyaksikan Puncak Pesona Hoyak Tabuik 2026 secara langsung.
Tak hanya warga Sumbar, wisatawan dari luar provinsi hingga turis asing juga terlihat memadati bibir pantai. Kepadatan massa kali ini disebut yang terbesar dalam sejarah pergelaran Tabuik, Selasa 30 Juni 2026.
Momen ini semakin istimewa. Karena untuk pertama kalinya, Hoyak Tabuik resmi masuk dalam kalender Kharisma Event Nusantara 2026 milik Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Rangkaian acara dibuka sejak pagi. Dua kelompok adat, Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang, menggelar prosesi “Tabuik Naiak Pangkek”.
Dua menara raksasa setinggi belasan meter, yang dirakit dari bambu dan rotan, diangkat ke atas. Prosesi itu menandai dimulainya masa berkabung masyarakat Pariaman.
Memasuki siang, tensi naik. Masuk prosesi “Hoyak Tabuik”. Kedua menara itu diarak dan digoyang sekuat tenaga. Tabuhan gandang tasa memecah udara. Ribuan pengusung dan penonton menyatu dalam satu sorakan.
Puncaknya terjadi saat matahari hampir terbenam. Prosesi “Tabuik Dibuang Ka Lauik” digelar. Kedua menara diarak ke laut dan dilarung. Ombak besar langsung menelannya. Ribuan orang bersorak, tanda ritual duka telah selesai.
Wakil Menteri Kebudayaan RI, Giring Ganesha, hadir langsung di lokasi. Ia tidak canggung menyatu dengan massa. Bahkan secara spontan menyanyikan lagu “Laskar Pelangi” dan “Hapus Aku”.
Dalam sambutannya, Giring menegaskan posisi Tabuik. “Tabuik bukan cuma megah secara visual. Ini adalah jiwa, denyut nadi, dan identitas masyarakat Pariaman. Ada spiritualitas dan gotong royong yang luar biasa di sini,” ujarnya.
Wali Kota Pariaman, Yota Balad, menyebut suksesnya Tabuik 2026 sebagai berkah besar. Terlebih setelah masuk KEN 2026.
“Dengan masuknya Tabuik ke KEN, kami makin optimis promosi wisata Sumbar akan mendunia. Tabuik bukan lagi sekadar tontonan. Ini katalisator ekonomi kreatif dan pariwisata kita,” kata Yota.
Pernyataan itu terbukti. Sepanjang festival, ribuan UMKM bergerak. Pedagang kuliner pesisir, perajin suvenir, hingga pemilik hotel dan homestay semua lapor omzet naik signifikan. Perputaran uang selama event jadi bukti nyata dampak ekonomi budaya.
Secara sejarah, Tabuik sudah ada lebih dari dua abad di Pariaman. Tradisi ini diwariskan turun-temurun sebagai ritual untuk mengenang gugurnya Imam Husain, cucu Nabi Muhammad SAW, dalam peristiwa Karbala.
Bagi warga Pariaman, Tabuik bukan festival biasa. Ini ritual batiniah. Namun di era modern, tradisi itu mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai sakralnya.
Keberhasilan 2026 menunjukkan satu hal: Tabuik mampu tumbuh di tengah modernisasi. Sinergi antara pemerintah pusat, Pemko Pariaman, dan masyarakat adat jadi kunci.
“Tabuik sudah bukan milik Pariaman saja. Ini mahakarya budaya Indonesia. Dengan panggung KEN 2026, kami siap membawanya ke kancah dunia,” tutup Yota Balad.
Reporter: Jeni




