NEWSCAKRAWALA.ID — Fenomena surutnya debit air Sungai Mahakam akibat musim kemarau kini tidak lagi sekadar dipandang sebagai siklus alam biasa. Di Kabupaten Kutai Barat, momentum ini justru bertransformasi menjadi penggerak ekonomi bagi masyarakat pesisir melalui aktivitas tambang emas tradisional.
Berdasarkan pantauan langsung Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kutai Barat, Alfian Nur, di sejumlah titik penambangan milik warga kampung pesisir, aktivitas “berburu bulir emas” ini terbukti efektif mengurangi angka pengangguran lokal dan mendongkrak pendapatan harian warga secara signifikan, Jumat 7 Agustus 2026.
Bagi masyarakat pesisir, khususnya di wilayah Kecamatan Long Iram, tradisi menambang emas secara turun-temurun ini bukan lagi sekadar upaya bertahan hidup. Kehadiran alat sederhana berupa mesin penyedot material yang disebut mesin katoq yang dikelola secara mandiri, mampu menghidupkan kembali roda perekonomian desa yang sebelumnya lesu.
“Warga memanfaatkan potensi alam yang muncul saat air surut. Dengan alat tradisional penyedot air sederhana, mereka mengolah pasir di dasar dan pinggiran sungai untuk memisahkan butiran emas,” jelas Alfian.
Dalam konfirmasi di lapangan kepada para pekerja tambang, tokoh adat, hingga petinggi kampung, surutnya Sungai Mahakam disebut membawa pundi-pundi rezeki yang sangat dinantikan. Terutama bagi warga yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan atau penghasilan tetap.
Petinggi kampung dan tokoh adat setempat mengapresiasi fenomena ini sebagai anugerah. Mereka menyoroti bagaimana kegiatan tambang tradisional ini mampu menyerap tenaga kerja lokal dari berbagai usia, sehingga angka pengangguran di kawasan pesisir Kecamatan Long Iram menurun drastis selama musim kemarau.
“Warga yang sebelumnya kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari kini memiliki sumber penghasilan mandiri tanpa harus merantau jauh dari kampung halaman,” ujar salah satu pekerja tambang.
Pemanfaatan kearifan lokal dalam mengolah potensi dasar sungai ini membuktikan ketangguhan ekonomi berbasis masyarakat pesisir. Kemampuan warga membaca momentum alam dan mengelolanya secara tradisional menegaskan bahwa Sungai Mahakam bukan hanya urat nadi transportasi, tetapi juga menjadi benteng pertahanan ekonomi rakyat kecil di Bumi Tanaa Purai Ngeriman.
Fenomena ini diharapkan mendapat perhatian dari pemerintah agar dapat dikelola secara berkelanjutan, dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan keselamatan kerja.
Reporter : Daniel


