Blog  

Nama Dituduh Provokator Kerusuhan Gerai Modern Pamekasan, Kades Sabra’i Pasang Badan Luruskan Fakta: “Saya Hadir Redam Massa

NEWSCAKRAWALA ID — ​Pamekasan — 11 Oktober 2026 Jagad maya dan jagad nyata belakangan ini mendadak gempar! Aksi penggerudukan serta perusakan gerai Indomaret di Desa Panaan, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan pada 7 Oktober 2026 lalu sukses menyedot perhatian publik dan viral di berbagai platform media sosial.

​Di tengah riuhnya sorotan dan spekulasi liar netizen, nama Ahmad Sabra’i, Kepala Desa Karanganyar, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang, mendadak ikut terseret ke dalam pusaran konflik. Ia dituding ikut membidani hingga memimpin aksi nekat massa tersebut.

​Tak tinggal diam terhadap narasi miring dan tuduhan sepihak yang menyudutkan dirinya, Sabra’i langsung pasang badan! Melalui unggahan tegas di platform TikTok dan media online SuaraGlobal.Net, sang Kades angkat bicara untuk membongkar fakta sebenarnya di lapangan.

 

​Sabra’i secara menohok membantah keras tuduhan bahwa dirinya hadir sebagai provokator. Sebaliknya, kehadiran dirinya di lokasi panas tersebut murni dipanggil oleh nurani demi menjaga kondusifitas wilayah serta membela marwah dan martabat para ulama.

​Awal Mula Api Konflik: Janji Manis yang Dilanggar

​Sabra’i membeberkan bahwa penolakan terhadap ritel modern di kawasan tersebut bukanlah gelombang emosi sesaat,

 

melainkan dinamika panjang yang punya akar kuat. Sejak awal, telah disepakati bersama bahwa wilayah Desa Potoan dan Desa Panaan harus steril dari ritel modern seperti Indomaret maupun Alfamart. Langkah ini diambil guna mengawal perekonomian pedagang lokal sekaligus menghormati dawuh para tokoh agama setempat.

​Bahkan, audiensi resmi bersama Bupati Pamekasan sempat digelar demi mengunci kesepakatan tersebut.

​”Pihak Indomaret bahkan sudah menemui saya hingga tiga kali untuk mencarikan solusi sewa tempat. Namun,

 

tegas kami sampaikan bahwa melanjutkan pembangunan di lokasi itu jelas-jelas melanggar komitmen awal,” tegas Sabra’i penuh nada lugas.

​Namun sayang, peringatan tersebut seolah dianggap angin lalu. Pihak pengelola diduga nekat main terobos hingga bersiap membuka gerai. Aksi nekat ini dinilai terang-terangan mengabaikan dawuh para ulama, kiai, dan Masyayikh—termasuk dari Pondok Pesantren legendaris Miftahul Ulum Penyepen,

 

Banyuanyar, serta Bata-Bata. Sontak saja, hal itu memicu amarah dan gejolak hebat di kalangan santri serta alumni.

​Panggilan Jiwa & Aksi Pasang Padam Api Kerusuhan

​Ketika gelombang protes pecah di lapangan, Sabra’i tak menampik kehadirannya. Namun, ia datang atas dasar panggilan jiwa sebagai murid dan alumni yang menjunjung tinggi adab serta takzim kepada para guru dan Bani Isbat.

 

​Menariknya, bukannya memperkeruh suasana, kehadiran Sabra’i justru menjadi benteng pertahanan terakhir agar amuk massa tidak makin liar dan melebar ke mana-mana!

​”Saya mendengar ada pergerakan gelombang massa besar dari wilayah Pantura yang hendak bergerak menuju gerai-gerai lainnya. Saya langsung pasang badan di sana untuk meredam dan mencegah amuk massa supaya situasi tidak makin chaos dan tidak meluas ke mana-mana,” ungkap Sabra’i membeberkan fakta lapangan.

 

​Lewat klarifikasi terbuka ini, Sabra’i mengimbau masyarakat luas dan warganet agar tidak mentah-mentah termakan narasi sepotong di media sosial yang menggiring opini negatif tentang dirinya. Ia menekankan bahwa akar masalah sejatinya bersumber dari ketidakpatuhan pihak pengelola terhadap kesepakatan bersama yang telah dibangun sejak awal.

​Kontak Media / Media Relations:

Ahmad Sabra’i (Kepala Desa Karanganyar)

​Penulis: Saladin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *