NEWSCAKRAWALA.ID – Langkah membangun kesadaran dan kesiapsiagaan bencana terus digalakkan di Kabupaten Sampang. Pondok Pesantren At-Taroqqi menjadi lokasi kegiatan Sosialisasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana (PESTANA) yang dirangkai dengan simulasi gempa bumi, Jumat 14 Agustus 2026.
Kegiatan ini diikuti ratusan santri dan bertujuan menanamkan budaya sadar risiko sejak dini. Dengan begitu, santri tidak hanya menjadi objek saat bencana, tetapi juga bagian dari solusi.
Turut hadir sebagai narasumber Ahmad Basori, Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan, dan Aang Djunaidi, ST., MT. Selain itu, kegiatan juga dihadiri Ustaz Fausi Qodir perwakilan alumni, Ach. Fatoni, M.Pd., Wakil Sekretaris DPP Ikatan Alumni At-Taroqqi (IMTAQ), serta jajaran pengurus dan ratusan santri Ponpes At-Taroqqi.
Dalam pemaparannya, Ahmad Basori menegaskan bahwa keselamatan jiwa adalah prioritas utama. Ia menyebut bencana dapat terjadi kapan saja tanpa peringatan.
“Mitigasi bencana bukan hanya tanggung jawab BPBD. Santri, pengasuh, pengurus, dan seluruh warga pesantren wajib memiliki pengetahuan dasar: mengenali risiko, mencegah dampak, dan mampu menyelamatkan diri saat bencana terjadi,” tegasnya.
Ia mendorong santri untuk memahami potensi ancaman di sekitar, jalur evakuasi, titik kumpul, serta bertindak tenang saat situasi darurat. Dari lingkungan pesantren diharapkan lahir kader-kader tangguh yang mampu menjadi penyambung informasi kebencanaan kepada masyarakat luas.
Aang Djunaidi, ST., MT., menilai pendidikan mitigasi di pesantren merupakan langkah strategis. Menurutnya, pesantren merupakan komunitas besar yang punya peran penting dalam membangun kesadaran masyarakat.
“Dengan jaringan alumni yang luas hingga ke mancanegara, ilmu yang didapat santri di pesantren ini berpotensi disebarkan berlipat ganda ke keluarga dan masyarakat di kampung halaman masing-masing. Santri jangan hanya menjadi objek saat bencana — mereka harus dipersiapkan menjadi bagian dari solusi,” ujarnya.
Ia menambahkan, dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang tepat, para santri dapat menjadi garda terdepan dalam membangun masyarakat tangguh bencana.
Rangkaian acara ditutup dengan simulasi gempa bumi yang diikuti seluruh peserta. Keteraturan, ketenangan, dan kedisiplinan menjadi penekanan utama saat latihan berlangsung.
Program PESTANA di Ponpes At-Taroqqi diharapkan menjadi pemantik bagi pesantren lain di Sampang untuk membangun sistem kesiapsiagaan secara mandiri. Sebab saat bencana terjadi, masyarakat di lokasi itulah pihak pertama yang harus bertindak sebelum bantuan datang.
“Semakin banyak yang paham dan siap, semakin besar harapan agar nyawa tetap terlindungi saat bahaya datang,” pungkasnya.
Reporter : Saladin












