NEWSCAKRAWALA.ID — Zona nyaman itu candu. Tapi Heru Dwi Andika 28 tahun memilih mematahkannya.
Pemuda asal Desa Pegendingan, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan ini memutuskan meninggalkan pekerjaan administrasi yang sudah ia tekuni bertahun-tahun. Alasannya sederhana: jiwanya menolak dipenjara di balik meja dan tumpukan berkas.
Baru 3 bulan bergabung, Heru kini menjelma menjadi salah satu tenaga marketing paling agresif di XL Center Pamekasan. Ia membuktikan bahwa keberanian keluar dari rutinitas bisa mengantar seseorang pada panggung yang lebih besar.
Heru mengaku lelah dengan rutinitas. Padahal ia bukan orang baru di dunia administrasi.
Ia fasih mengolah data, rapi dengan berkas, dan teliti dengan angka. Tapi di dalam dirinya ada api yang tidak bisa dipadamkan rutinitas.
Pengakuan itu ia sampaikan saat ditemui di salah satu cafe Idea di Jalan Agus Salim, Pamekasan, Senin 31 Agustus 2026 siang.
“Dasar saya memang admin. Tapi saya capek kalau hidup saya cuma 8 jam di ruangan yang sama, ketemu layar yang sama. Saya ini anak lapangan. Dari dulu saya aktif di perpustakaan desa, ikut gerakan kepemudaan. Energi saya hidup kalau ketemu orang, ngobrol, dan memberi solusi,” ujar Heru sambil menyeruput kopi.
Keputusan resign bukan tanpa risiko. Banyak yang menertawakan. “Ngapain ninggalin kerjaan tetap buat jadi sales keliling? Tetapi Heri punya jawaban sendiri.
Hari pertama jadi marketing, Heri ditolak. Hari kedua ditolak lagi. Hari ketiga, mulai ada yang dengerin.
Bagi Heru, penolakan bukan tembok. Itu anak tangga.
“Banyak orang bilang kerja sales itu duka, capek, panas-panasan. Saya bilang: itu sekolah paling mahal yang dibayar dengan keringat. Setiap saya ketok pintu, saya bukan cuma nawarin produk. Saya belajar psikologi, belajar komunikasi, belajar baca peluang. Setiap ‘tidak’ hari ini adalah ‘iya’ yang lebih besar besok,” katanya penuh semangat.
Hasilnya nyata. Dalam 3 bulan, Heru tidak hanya menguasai teknik penjualan. Ia juga berhasil melampaui target dan membuka jaringan baru yang bahkan tidak ia bayangkan saat masih jadi admin. Insentif yang ia dapat jauh melampaui gaji tetapnya dulu.
Heri tidak ingin berhenti sebagai “sales biasa”. Ia punya misi besar.
“Target saya bukan cuma closing. Saya mau jadi jembatan. Saya mau orang Pamekasan tahu kalau XL Center itu bukan cuma tempat beli paket. Ini rumah buat mereka konsultasi, curhat masalah sinyal, dan dapat solusi terbaik. Saya mau jadi garda terdepan yang paling dipercaya masyarakat,” tegasnya.
Ia juga ingin mematahkan stigma bahwa anak desa tidak bisa bersaing di dunia marketing modern.
“Anak Galis juga bisa. Anak desa juga bisa bakar target. Asal mau keluar, mau belajar, dan mau digembleng lapangan,” tutup Heru optimis.
Redaksi










