NEWSCAKRAWALA.ID – Hak setiap anak untuk duduk di bangku sekolah kembali ditegaskan Cabang Dinas Pendidikan Kabupaten Sampang. Tahun ini, Cabdin tidak lagi menunggu laporan. Mereka memilih turun langsung ke lapangan melalui program tracing atau penelusuran anak putus sekolah.
Kepala Cabdin Sampang, Mas’udi Hadiwijaya, S.Pd.,M.Pd., menyebut langkah ini sebagai bentuk tanggung jawab negara hadir untuk warganya, Rabu 15 Juli 2026.
“Pendidikan itu hak. Tidak boleh ada anak yang tertinggal hanya karena persoalan ekonomi atau keluarga. Karena itu kita tracer. Kita cari yang putus sekolah. Ada berapa, kenapa kok putus sekolah,” ujar Mas’udi di Kantor Cabdin Sampang pada sejumlah awak media.
Program tracing yang digencarkan Cabdin bukan sekadar mendata. Tim akan mendatangi rumah anak yang diketahui berhenti sekolah. Di sana, petugas akan berdialog dengan orang tua untuk memahami persoalan sebenarnya.
Mas’udi menyebut penyebabnya sangat beragam. Ada anak yang harus bekerja membantu orang tua. Ada yang orang tuanya pindah kerja ke luar kota. Ada juga yang memilih mondok. Bahkan persoalan perceraian dan konflik keluarga turut andil.
“Setelah kita tahu sebabnya, baru kita carikan solusi. Bisa dikembalikan ke sekolah asal, diarahkan ke PKBM, atau dapat bantuan. Intinya anak itu harus tetap belajar,” jelasnya.
Selain mengejar anak yang sudah putus, Cabdin juga membentengi anak yang masih sekolah. Mas’udi mengeluarkan imbauan keras kepada seluruh kepala sekolah di Sampang.
Sekolah dilarang menjadikan “mengeluarkan siswa” sebagai jalan pintas menyelesaikan masalah.
“Kita pastikan tidak boleh mengeluarkan siswa ataupun menjustifikasi tanpa ada persetujuan dengan orang tua,” tegasnya pada Rabu 15 Juli 2026.
Menurut Mas’udi, sekolah adalah rumah kedua. Fungsinya membina, bukan menghukum dengan cara mengeluarkan. Jika ada siswa bermasalah, maka yang dikedepankan adalah pendekatan, pembinaan karakter, dan komunikasi intensif dengan wali murid.
Mas’udi mengajak semua pihak ikut mengawasi. Mulai dari guru, kepala desa, tokoh agama, sampai tetangga. Jika melihat ada anak usia sekolah yang tidak bersekolah, segera laporkan ke Cabdin.
“Dengan begitu kita bisa cepat bergerak. Jangan sampai karena terlambat, anak itu akhirnya benar-benar lepas dari dunia pendidikan,” katanya.
Ia menutup dengan optimisme. Dengan program tracing dan perlindungan ini, Cabdin Sampang menargetkan tidak ada lagi anak usia sekolah yang putus tanpa alasan jelas.
“Tracing anak putus sekolah merupakan langkah strategis untuk memastikan seluruh anak usia sekolah mendapatkan hak pendidikan yang layak,” pungkas Mas’udi Hadiwijaya.
Reporter : Saladin












