Berita  

Ketua Wakomindo Dedik Sugianto Ajak Insan Pers Indonesia Geser Fokus Peringatan ke Hari Pers Internasional 3 Mei Demi Pers yang Inklusif dan Independen

NEWSCAKRAWALA.ID – Ketua Umum Wartawan Kompetensi Indonesia (Wakomindo) Dedik Sugianto mengajak seluruh insan pers di Indonesia untuk lebih menggaungkan peringatan Hari Pers Internasional atau Hari Kebebasan Pers Sedunia yang jatuh setiap tanggal 3 Mei.

Ajakan tersebut disampaikan menyusul penilaian bahwa orientasi peringatan hari pers di Indonesia perlu ditinjau ulang agar mencerminkan semangat inklusivitas dan independensi bagi seluruh pekerja media, Selasa 14 Juli 2026.

Menurut Dedik, Hari Pers Nasional (HPN) yang diperingati setiap 9 Februari selama ini sering kali dinilai bias dan terkesan menjadi milik organisasi pers tertentu.

“Pers adalah pilar keempat demokrasi yang sifatnya universal dan independen. Ketika momentum yang dirayakan justru memicu polarisasi atau rasa kepemilikan sepihak oleh organisasi tertentu, maka makna independensi pers itu sendiri sedang dipertanyakan,” ujar Dedik dalam keterangan resminya.

Untuk menguatkan ajakannya, Dedik memaparkan tiga dasar argumentasi utama.

Penetapan HPN pada 9 Februari didasarkan pada hari lahir Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985. Di era demokrasi saat ini, di mana UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers menjamin kebebasan mendirikan organisasi pers, menjadikan tanggal tersebut sebagai hari nasional seluruh insan pers dinilai kurang relevan dan menimbulkan kesan eksklusivitas.

Dan Hari Kebebasan Pers Sedunia yang dicanangkan UNESCO sejak 1993 mengusung semangat universal untuk seluruh pelaku jurnalistik tanpa memandang latar belakang organisasi.

“Menjadikan 3 Mei sebagai kiblat utama peringatan akan menyatukan seluruh faksi, asosiasi, dan perusahaan pers di Indonesia dalam satu payung solidaritas global yang setara,” jelas

Sementara Dedik menyoroti kritik terhadap perayaan HPN yang kerap terjebak pada seremoni mewah dengan dukungan anggaran daerah atau korporasi. Ia menilai Hari Kebebasan Pers Sedunia justru menekankan pada evaluasi kemerdekaan pers, perlindungan hukum bagi jurnalis dari kekerasan, dan peningkatan kompetensi wartawan.

“Ini jauh lebih dibutuhkan oleh wartawan di lapangan hari ini daripada sekadar pesta perayaan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Dedik menegaskan bahwa menggeser fokus ke peringatan internasional juga dapat menjauhkan pers dari potensi politisasi yang kerap melekat pada agenda HPN di tingkat lokal maupun nasional.

“Pers yang sehat adalah pers yang menjaga jarak aman dari kekuasaan,” ujarnya.

Di akhir pernyataannya, Dedik menekankan bahwa Wakomindo tidak bermaksud menghapus sejarah. Ia mengajak insan pers melangkah ke arah yang lebih terbuka dan global.

“Mari kita jadikan setiap tanggal 3 Mei sebagai momentum bersama untuk merefleksikan posisi kita. Apakah pers kita sudah benar-benar merdeka? Apakah wartawan kita sudah sejahtera dan kompeten? Di sanalah esensi perayaan yang sesungguhnya, bebas dari sekat organisasi dan klaimsepihak,” pungkas Dedik.

 

 

Reporter :Jeni

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *