Bontang – Aroma dupa dan alunan mantra adat menyatu dalam nuansa sakral saat Lembaga Adat Kutai Bontang melangsungkan Ritual Tepong Tawar pada Senin siang (17/11/2025). Digelar di kediaman resmi Wali Kota Bontang, Wakil Wali Kota, serta Ketua DPRD, ritual ini menjadi gerbang spiritual yang mengawali rangkaian Pesta Adat Erau Pelas Benua Guntung.
Ritual ini dilaksanakan di Jalan Awang Long, kediaman Wali Kota Neni Moerniaeni, Wakil Wali Kota Agus Haris, dan Ketua DPRD Bontang Andi Faizal Aofyan Hasdam. Hadir pula Ketua Adat Kutai Guntung Darmawi, Lurah Guntung Denny Febrian, serta tokoh-tokoh adat dari wilayah Guntung.
Sebagai tradisi turun temurun dalam adat Kutai, Tepong Tawar dimaknai sebagai bentuk penyucian spiritual, serta permohonan kepada leluhur agar seluruh prosesi dan rangkaian kegiatan adat berjalan lancar dan diberkahi. Ritual ini juga menjadi simbol ‘izin’ dari alam dan leluhur atas pelaksanaan pesta budaya yang akan melibatkan masyarakat dalam skala besar.
“Ritual Tepong Tawar ini adalah doa dan restu dari para leluhur. Sebagai bentuk pembersihan dan peneguhan niat untuk melaksanakan kegiatan adat besar, kami laksanakan di rumah para pemimpin kota,” ujar Darmawi, Ketua Adat Kutai Guntung.
Ritual ini menandai pembuka resmi Erau Pelas Benua Guntung yang akan dimulai Selasa pagi (18/11/2025) dan berlangsung hingga 23 November 2025. Selama enam hari penuh, Pesta Adat Erau akan diisi berbagai kegiatan budaya khas Kutai seperti tarian adat, upacara Bapelas, lomba permainan tradisional, serta berbagai pentas kesenian yang dipusatkan di Rumah Kampong Adat Guntung, Kecamatan Bontang Utara.
Kehadiran para tokoh adat dan pemerintah dalam pelaksanaan ritual menunjukkan komitmen kuat terhadap pelestarian budaya leluhur. Prosesi Bapelas keliling dan Tepong Tawar di lingkungan pejabat tinggi tidak hanya mengandung makna spiritual, tetapi juga menjadi cerminan harmonisasi antara pemerintah daerah dan komunitas adat.
Pemerintah Kota Bontang bersama Lembaga Adat berharap kegiatan Erau Pelas Benua Guntung tahun ini dapat menjadi sarana penguatan identitas budaya lokal sekaligus mempererat hubungan sosial masyarakat Bontang. Tradisi ini diyakini mampu menjadi jembatan antar generasi untuk tetap menjaga nilai-nilai luhur Kutai dalam kehidupan modern. (ADV).












