Bontang – Upaya Pemerintah Kota Bontang dalam menekan angka stunting kembali digiatkan melalui perpanjangan Operasi Timbang Balita yang kini dilakukan dengan pola jemput bola. Seperti rangkaian yang tak boleh terputus, kegiatan ini dirancang untuk memastikan tak ada satu pun balita yang luput dari pengawasan tumbuh kembang.
Langkah lanjutan tersebut diumumkan setelah Operasi Timbang Jilid II selesai digelar di 15 kelurahan. Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, menegaskan bahwa posyandu kini bergerak lebih aktif dengan mengunjungi rumah balita yang belum hadir dalam penimbangan. Program ini dilaksanakan untuk menjamin pemeriksaan pertumbuhan mencakup seluruh anak di wilayah kota.
“Kegiatan ini tidak berhenti sampai di sini. Kader akan mendatangi langsung rumah-rumah balita yang belum sempat hadir ke posyandu,” ungkap Neni, Selasa (4/11/2025).
Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini bertujuan memastikan setiap balita mendapatkan evaluasi pertumbuhan yang komprehensif. Pemerintah ingin memastikan tidak ada anak yang terlewat, mengingat deteksi dini merupakan kunci pencegahan stunting yang efektif.
“Kami ingin semua anak di Bontang mendapatkan perhatian penuh sejak dini, karena di situlah kunci pencegahan stunting,” jelasnya.
Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan, hingga saat ini terdapat 11 kelurahan yang berhasil mencapai cakupan penimbangan 100 persen, termasuk Tanjung Laut, Api-Api, Loktuan, dan Gunung Telihan. Sementara empat kelurahan lainnya—Bontang Lestari, Berebas Tengah, Berbas Pantai, dan Satimpo—masih belum memenuhi target. Satimpo tercatat dengan persentase terendah, yakni 95,06 persen. Dari total 9.702 sasaran balita, sebanyak 9.674 anak telah ditimbang, menyisakan 28 balita yang belum terdata.
Dalam kunjungannya ke Posyandu Perum PAMA Bontang Lestari, Wali Kota Neni kembali menekankan pentingnya hasil penimbangan sebagai pijakan strategi intervensi gizi dan kebijakan kesehatan.
“Kalau kita bisa deteksi lebih cepat, intervensi juga bisa dilakukan segera,” tegasnya.
Selain memperpanjang rangkaian Operasi Timbang, Pemkot Bontang memastikan program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) tetap berjalan sebagai bagian dari intervensi gizi. Para kader posyandu juga direncanakan mengikuti pelatihan tambahan untuk meningkatkan kemampuan pendampingan keluarga di bidang kesehatan anak.
“Mereka ujung tombak kita di lapangan, jadi harus dibekali kemampuan yang baik,” ungkap Neni.
Sejak Operasi Timbang Jilid I dilaksanakan pada Mei lalu, angka stunting di Bontang berhasil ditekan hingga 17,4 persen, menjadi penurunan tertinggi di Kalimantan Timur. Dengan strategi jemput bola dan penguatan kader, pemerintah optimistis tren penurunan ini terus berlanjut hingga akhir 2025.
Melalui serangkaian program terpadu ini, Pemkot Bontang menegaskan komitmennya menjaga tumbuh kembang anak sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan kota. (ADV).












