Bontang – Semarak perayaan HUT ke-42 SMPN 1 Bontang pada Sabtu (15/11/2025) pagi menghadirkan atmosfer yang menyerupai orkestra harapan, di mana setiap sambutan dan kisah yang disampaikan para tokoh seakan menjadi nada yang menyatukan optimisme dunia pendidikan Bontang. Dengan mengusung tema “Melangkah Pasti, Berkarya Prestasi, Menginspirasi Negeri”, acara ini menjadi ruang refleksi, penghargaan, sekaligus komitmen bersama untuk terus memperkuat kualitas pendidikan.
Kehadiran Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, bersama Anggota DPD RI sekaligus Ketua Komite 1, Andi Sofyan Hasdam, memberi warna tersendiri pada momentum tersebut. Turut menyaksikan kemeriahan itu Kepala SMPN 1 Bontang, Rianto, Ketua Komite Sekolah Artahnan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, seluruh dewan guru, serta ratusan pelajar yang memadati area sekolah.
Dalam sambutannya, Sofyan Hasdam memberikan apresiasi terhadap perkembangan SMPN 1 yang menjadikan “Juara” sebagai moto identitas. Ia memaparkan betapa berubahnya peran guru di era kini, menuturkan kisah dua guru PNS di Luwu Utara yang menggalang iuran Rp20 ribu dari orang tua murid demi membantu guru honorer yang belum menerima gaji. Kisah itu ia sandingkan dengan pengalaman masa kecilnya ketika ayahnya, seorang anggota DPR RI, menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada guru untuk mendidiknya tanpa batasan, menekankan pentingnya penghormatan seorang murid kepada pendidiknya.
“Saya tidak akan menjadi Wali Kota, tidak akan menjadi Anggota DPD, kalau bukan jasa guru SD saya,” tegas Sofyan, menempatkan profesi guru sebagai profesi yang melahirkan banyak profesi lain, termasuk dokter dan pemimpin.
Di kesempatan berikutnya, Wali Kota Neni Moerniaeni—akrab disapa Bunda Neni—menyampaikan komitmen kuat pemerintah dalam membangun SDM unggul. Ia menyebut alokasi anggaran pendidikan di Bontang mencapai lebih dari 20 persen, langkah yang disebutnya sebagai investasi masa depan kota. Pada momen tersebut, ia juga memberikan apresiasi khusus kepada siswa SMPN 1, Ananda Kemal, yang berhasil meraih juara 2 internasional di Kanada pada kompetisi desain master plan Bontang. Sebagai bentuk penghargaan, Neni menyerahkan hadiah sebesar Rp1 juta.
“Pembangunan negara harus dimulai dari pendidikan,” ungkapnya, merujuk pada kisah Kaisar Jepang pasca-bom atom yang menanyakan jumlah guru yang selamat, serta keberhasilan Singapura di bawah kepemimpinan Lee Kuan Yew yang menjadikan pendidikan sebagai fondasi utama.
Tidak hanya menyoroti kualitas akademik, Bunda Neni menekankan pentingnya kesehatan mental siswa. Ia meminta para guru memahami dinamika emosional anak didik, terutama mereka yang terdampak konflik keluarga.
“Apabila ada anak-anak kita yang mengalami depresi atau neurosa mental health karena ketidakharmonisan di rumah, peran guru juga harus hadir di dalamnya,” ujarnya.
Sebagai langkah preventif, Neni meminta Dinas Pendidikan bekerja sama dengan psikolog di Bontang untuk memperkuat karakter siswa. Ia juga mengusulkan pemasangan CCTV di ruang kelas, area penting, dan sekitar toilet untuk mencegah perundungan serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman.
Acara puncak ditandai dengan penyerahan tablet, tas, sepatu, dan seragam secara simbolis kepada para siswa. Momen itu disusul pembagian doorprize yang semakin menyemarakkan perayaan, menutup peringatan HUT ke-42 dengan semangat baru bagi seluruh warga SMPN 1 Bontang. (ADV).












