Bontang – “Bangsa besar adalah bangsa yang menghargai pahlawan dan budayanya.” Kalimat yang mengandung makna dalam itu disampaikan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, saat menghadiri Pagelaran Seni Budaya dan Kuliner Sunda, Sabtu malam (22/11/2025). Bertempat di Halaman Parkir Stadion Bessai Berinta, Kelurahan Api-Api, suasana malam itu berubah menjadi lautan budaya yang hangat, mengalun bersama irama angklung dan semerbak cita rasa kuliner khas Sunda.
Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Dispopar) Kota Bontang dengan Paguyuban Wargi Sunda Bontang (PWSB) serta Ikatan Wanita Sunda (IWS) Bontang. Acara pembukaan diisi dengan penetapan struktur kepengurusan PWSB Tahun 2025 dan IWS Bontang periode 2025–2030 — menandai langkah baru dalam penguatan organisasi budaya Sunda di Bontang. Kegiatan yang berlangsung sejak 21 hingga 23 November 2025 ini menghadirkan beragam elemen budaya, dari seni tari, karawitan, angklung, sastra hingga kriya tradisional.
Dalam sambutannya, Wali Kota Neni Moerniaeni menegaskan pentingnya menjaga kerukunan antarsuku sebagai fondasi Kota Bontang yang plural. Menurutnya, keberagaman yang dimiliki kota harus terus dipelihara dengan kasih sayang dan harmoni demi menciptakan Bontang yang damai dan maju.
“Kota Bontang dibangun oleh banyak suku. Karena itu, kita harus tetap menjaga kebersamaan, kasih sayang, harmonisasi, dan toleransi,” ujar Bunda Neni.
Wali Kota juga meminta PWSB dan IWS aktif berkolaborasi dengan pemerintah, bukan hanya dalam pelestarian budaya, tapi juga terlibat dalam program pembangunan. Ia menyebut beberapa program prioritas seperti Jumat Bersih, pelestarian lingkungan, pendidikan, hingga pengentasan stunting dan kemiskinan sebagai bagian penting dari kontribusi organisasi budaya.
“Saya berharap tidak ada gesekan di internal organisasi. Bangun komunikasi, dan mari berkolaborasi dengan OPD serta program pemerintah untuk kepentingan masyarakat,” tambahnya.
Pagelaran ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya Sunda, tetapi juga sebagai medium edukasi dan pemberdayaan ekonomi kreatif. Generasi muda menjadi salah satu sasaran utama, agar mereka tidak tergerus arus modernisasi tanpa mengenal jati dirinya. Selain itu, kegiatan ini juga mempererat hubungan antar paguyuban dari berbagai daerah, seperti dari Samarinda dan Kutai Timur.
Sebagai penutup, pertunjukan Wayang Golek dari kelompok seni Putra Giri Harja III Saparakanca menjadi suguhan istimewa. Kesenian khas Jawa Barat itu menjadi puncak yang syahdu sekaligus meriah, menandakan komitmen Kota Bontang dalam menjaga warisan budaya leluhur.
Pagelaran ini menjadi bukti nyata bagaimana kekuatan budaya bisa menyatukan masyarakat dalam satu panggung penuh harmoni. (ADV).












