Bontang–Jeju Perkuat Kolaborasi Pengelolaan Sampah Ramah Lingkungan

Bontang dan Jeju perkuat kolaborasi pengelolaan sampah ramah lingkungan dengan dukungan KOICA dan KLHK
Bontang dan Jeju perkuat kolaborasi pengelolaan sampah ramah lingkungan dengan dukungan KOICA dan KLHK (foto: Prokompim Bontang)

Bontang – Senyum diplomasi dan semangat keberlanjutan menyatu dalam suasana hangat di Pendopo Rumah Jabatan Wali Kota Bontang, Senin malam (3/11/2025), saat digelar Welcome Dinner bagi Tim Survei KOICA Indonesia Office, Delegasi Pemerintah Provinsi Jeju, Korea Selatan, serta tim pakar lingkungan dari Korea.

Acara ini merupakan bagian penting dari rangkaian kegiatan survei dan diskusi teknis dalam upaya mewujudkan proyek pengelolaan sampah ramah lingkungan antara Kota Bontang dan Jeju dengan dukungan dari KOICA dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI.

Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan internasional kepada Kota Bontang untuk menjadi mitra dalam pengembangan sistem pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.

“Kami ingin menjadikan Bontang sebagai kota yang tidak hanya bersih, tetapi juga berdaya dari sampah,” ujar Neni.

Ia menjelaskan, Kota Bontang dengan luas 161,1 kilometer persegi dan penduduk sekitar 191 ribu jiwa, memproduksi 100 ton sampah setiap harinya. Dengan 499 bank sampah aktif serta berbagai inovasi seperti program “Plasticman Day” dan pemanfaatan mikroba untuk sampah organik, Bontang telah menyiapkan ekosistem untuk pengelolaan berbasis 3R: reduce, reuse, recycle.

“Kami berharap kerja sama dengan Jeju mampu memperkuat upaya kami dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang modern dan berkelanjutan,” katanya.

Perwakilan KLHK RI, Desi Florita Syahril, menyampaikan dukungan penuh pemerintah pusat atas proyek ini, yang dinilainya sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah.

“Bontang kami nilai layak menjadi proyek percontohan nasional. Harapannya, hasil diskusi dan kunjungan selama tiga hari ini bisa dituangkan dalam rencana aksi konkret,” ucap Desi.

Dukungan juga datang dari Director of Peace and Diplomatic Affairs Division Pemerintah Provinsi Jeju, Mr. Oh Gyun Kang, yang menyatakan tekad untuk berbagi teknologi dan semangat kolaborasi lintas negara.

“Kerja sama ini bukan sekadar transfer teknologi, tetapi juga membangun persahabatan demi lingkungan yang lebih baik,” ungkapnya.

Diskusi ini difokuskan untuk menyusun Terms of Reference sebagai fondasi proyek, termasuk sistem pengelolaan sampah terintegrasi, pelatihan SDM lokal, dan konversi sampah menjadi energi terbarukan.

Kemitraan Bontang–Jeju yang difasilitasi KOICA diharapkan menjadi contoh nyata sinergi internasional dalam menekan emisi karbon dan mendukung agenda global keberlanjutan. (ADV).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *