NEWSCAKRAWALA.ID – Musim kemarau panjang yang memicu krisis air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Pamekasan terus meluas.
Menyikapi kondisi tersebut, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) bersama LAZISMU Pamekasan mengambil langkah cepat dengan membangun kolaborasi multi-helix melibatkan unsur pemerintah, organisasi mahasiswa, dan satuan pendidikan.
Gerakan responsif penanganan kekeringan ini melibatkan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pamekasan, PDAM, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Pamekasan, Palang Merah Remaja (PMR), serta Tim Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dari SMP Muhammadiyah 1 Pamekasan dan SMA Negeri 1 Galis Pamekasan. Aksi kemanusiaan tersebut dilaksanakan pada Rabu (07/10/2026).
Ketua MDMC Pamekasan, Hendri Masduki, menjelaskan bahwa model multi-helix dipilih sebagai strategi untuk memastikan bantuan air bersih tepat sasaran dan mudah diakses masyarakat terdampak. Menurutnya, pola lama yang hanya mengirim tangki air secara sporadis dinilai kurang efektif.
“Model kolaboratif multi-helix dalam penanganan kekeringan ini merupakan refleksi dari gerakan filantropi Al-Islam. Kami melakukan pengiriman air berbasis satuan pendidikan, masjid, dan mushala sebagai titik kumpul masyarakat terdampak kekeringan di beberapa kecamatan,” ujar Hendri.
Ia menambahkan, pemanfaatan sekolah, madrasah, masjid, dan mushala sebagai posko distribusi memiliki nilai strategis. Selain dekat dengan permukiman warga, fasilitas tersebut memiliki jaringan komunitas yang kuat dan dipercaya masyarakat.
“Sekolah dan madrasah merupakan ruang yang dekat dengan masyarakat serta memiliki jaringan komunitas yang luas. Demikian pula masjid dan sarana ibadah menjadi pusat aktivitas masyarakat yang dapat berfungsi sebagai titik koordinasi dan pelayanan sosial. Dengan pendekatan tersebut, distribusi bantuan air bersih diharapkan lebih efektif,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Pemberdayaan Umat HMI Cabang Pamekasan, Taupik, menilai keterlibatan mahasiswa dan pelajar dalam aksi ini menjadi bukti nyata sinergi antara gerakan kemanusiaan dan dunia pendidikan.
“Keterlibatan MDMC-LAZISMU menjadi bagian dari gerakan kemanusiaan Muhammadiyah dalam merespons kebutuhan masyarakat. Sementara itu, kehadiran HMI serta PMR dan Tim SPAB SMP/SMA sebagai refleksi dan pengejawantahan terhadap program kampus berdampak untuk perguruan tinggi, dan Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (SIKAP) untuk sekolah dalam skema prioritas nasional Asta Cita Presiden Prabowo Subianto,” ungkap Taupik.
Adapun pelaksanaan penyaluran bantuan air bersih menyasar lima kecamatan yang selama ini menjadi langganan kekeringan setiap musim kemarau tiba, yakni Kecamatan Larangan, Pademawu, Tlanakan, Proppo, dan Batu Marmar. Di wilayah tersebut, warga dilaporkan mulai kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan minum, memasak, hingga sanitasi.
Kolaborasi lintas sektoral ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi mampu membangun pola penanganan kekeringan yang lebih terstruktur, terkoordinasi, dan berkelanjutan. Dengan mengoptimalkan peran sekolah, kampus, masjid, dan pemerintah daerah, layanan kemanusiaan diharapkan semakin dekat dengan masyarakat yang membutuhkan.
“Kami berharap gerakan ini bisa menjadi contoh bahwa penanganan bencana kekeringan tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Harus bersama, berbasis komunitas, dan berkelanjutan,” pungkas Hendri.
PENULIS : ARIL












