Sosial  

Ditinggal Saat Hamil 6 Bulan, Istri ABK Korban KM Virgo Transport 8 di Pamekasan Dapat Santunan Rp100 Juta dari Ali Zainal Abidin

NEWSCAKRAWALA.ID– Kepergian Nurul Rian Hidayat (33) meninggalkan luka mendalam bagi keluarga di Dusun Sambung, Desa Teja Timur, Kabupaten Pamekasan. ABK medis KM Virgo Transport 8 itu menjadi salah satu korban meninggal dalam tragedi karamnya kapal di perairan Masalembu.

Nurul Rian berangkat dengan tugas mulia sebagai tenaga medis kapal, memastikan keselamatan ratusan penumpang dalam pelayaran dari Surabaya menuju Banjarmasin.

Namun tugas itu menjadi pelayaran terakhirnya. KM Virgo Transport 8 yang mengangkut 243 jiwa tenggelam pada Minggu dini hari. Dari data sementara, 108 orang selamat, 6 orang ditemukan meninggal dunia, dan sisanya masih dinyatakan hilang.

Di rumah duka, duka itu berlipat ganda. Almarhum meninggalkan istri, Azimatul Munirah alias Nining yang sedang hamil 6 bulan, serta seorang anak perempuan yang baru berusia 18 bulan.

Kamis (17/9/2026), suasana haru menyelimuti kediaman korban. Pendiri Bani Insan Peduli, Ali Zainal Abidin, hadir langsung menyampaikan belasungkawa. Kedatangannya tidak sendiri, ia membawa serta puluhan anak yatim binaan untuk memanjatkan doa bersama warga yang memadati lokasi.

Dalam kesempatan tersebut, Ali menyerahkan santunan tunai sebesar Rp100 juta kepada pihak keluarga. Santunan itu diserahkan secara simbolis dan dibagi untuk tiga kebutuhan utama keluarga.

KETERANGAN FOTO :
Pendiri Bani Insan Peduli, Ali Zainal Abidin (berbaju biru) memberikan santunan kepada puluhan anak yatim yang turut hadir dalam doa bersama di rumah duka almarhum Nurul Rian Hidayat, ABK KM Virgo Transport 8, di Dusun Sambung, Desa Teja Timur, Pamekasan, Kamis (17/9/2026).

 

“Saya titipkan Rp100 juta. Rp50 juta untuk putri almarhum yang masih 18 bulan, untuk tabungan pendidikannya kelak. Rp25 juta untuk orang tua almarhum, dan Rp25 juta khusus untuk biaya persalinan istrinya yang sedang hamil 6 bulan,” jelas Ali Zainal Abidin di depan keluarga korban.

Menurut Ali, apa yang dilakukan almarhum adalah bentuk perjuangan sejati seorang kepala keluarga. Ia bahkan masih menyempatkan diri menenangkan keluarganya melalui video call pada Minggu (13/9/2026) pukul 00.00 WIB, hanya beberapa jam sebelum musibah terjadi.

“Beliau sempat video call istri dan anaknya, menyampaikan bahwa kebutuhan satu bulan ke depan sudah aman. Itu bukti bahwa sampai detik terakhir, yang ia pikirkan adalah keluarga. Insyaallah syahid,” tegas Ali.

Bagi Azimatul Munirah, bantuan tersebut datang di saat yang paling ia butuhkan. Sejak kepergian suami, ia mengaku kalut memikirkan biaya persalinan dan pengurusan administrasi kesehatan yang selama ini sepenuhnya diurus oleh almarhum.

“Saya bingung, biasanya semua diurus suami, termasuk BPJS. Sekarang saya hamil besar, mau melahirkan, suami tidak ada. Saya sangat berterima kasih kepada Bang Ali, bantuan ini sangat membantu saya dan anak-anak,” ungkap Nining terbata-bata.

Kehadiran Ali di tengah keluarga korban juga menjadi penguat moril. Ia berharap, santunan yang diberikan bisa sedikit meringankan beban keluarga, terutama untuk menyongsong kelahiran anak kedua almarhum yang rencananya akan diiringi tasyakuran tujuh bulanan, namun kini harus dilalui tanpa kehadiran sang ayah.

 

 

Reporter : Aril / Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *