Kami Ingin Hidup : Pedagang Pengecer Pertalite Sampang Minta Pemerintah Carikan Solusi Adil di Tengah Aturan Baru

Foto : Sejumlah botol berisi Pertalite terpajang di rak kayu milik pedagang pengecer di bahu jalan Sampang, Madura. Para pedagang mengeluhkan aturan distribusi BBM subsidi yang dinilai mempersulit usaha mereka,Jumat 12 Juni 2026.

NESWCAKRAWALA.ID – Di sela deru kendaraan yang menganti di bahu jalan, suara pedagang kecil pengecer Pertalite di Kabupaten Sampang, Madura, kembali menggema.

Bukan protes, tapi keluhan dan harapan yang mereka sampaikan dengan nada memohon: “Kami tunggu kebijakan pemerintah. Kami ingin hidup.”

Keluhan itu bukan baru. Sejak adanya pembatasan dan aturan distribusi Pertalite dari pemerintah pusat, puluhan hingga ratusan pedagang pengecer di berbagai desa Sampang merasa usaha mereka tercekik. Mereka yang selama ini menggantungkan hidup dari jualan eceran BBM subsidi itu kini berada di persimpangan.

“Selama ini, berbagai aturan dan prosedur yang ada justru terasa mempersulit jalannya usaha, bukan memudahkan. Kami bukan menolak aturan, Pak. Kami cuma minta ada solusi yang adil,” ujar salah satu pedagang di wilayah Kota Sampang, Jumat 12 Juni 2026.

Bagi mereka, Pertalite bukan sekadar barang dagangan. Itu adalah “napas” untuk menghidupi keluarga, menyekolahkan anak, dan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika akses distribusi dipersulit, rantai ekonomi paling bawah yang langsung terdampak.

Dengan logat Madura yang khas, para pedagang menitipkan pesan untuk pemerintah. Mereka tidak meminta pengecualian, hanya kepastian dan kemudahan agar roda usaha tetap berputar.

“Jangan dipersulit terus. Carikan jalan keluar yang baik agar kami bisa berusaha dengan tenang dan akhirnya rakyat bisa sejahtera. Kami siap ikut aturan, asal ada jalan dan mekanismenya jelas,” kata pedagang lain yang sudah 7 tahun menekuni usaha eceran Pertalite.

Mereka memahami alasan pemerintah melakukan penataan distribusi BBM subsidi. Tapi di lapangan, kata mereka, implementasi aturan sering kali tidak diimbangi dengan solusi bagi pengecer yang tidak punya pangkalan resmi.

“Kalau pangkalan besar yang diuntungkan, kami yang kecil ini mau ke mana? Mohon dipikirkan juga nasib kami,” tambahnya lirih.

Harapan terbesar mereka kini tertuju ke pimpinan tertinggi negeri. Nama Presiden Prabowo Subianto disebut berulang kali oleh para pedagang sebagai sosok yang mereka yakini bisa mendengar suara “rumput”.

“Kami mohon sekiranya suara kami ini didengar oleh Pak Presiden Prabowo Subianto. Bapak kan dekat dengan rakyat kecil. Tolong carikan jalan keluar yang baik untuk kami. Jangan sampai usaha rakyat kecil ini mati karena aturan,” pinta mereka.

Para pedagang berharap, kebijakan yang akan diambil pemerintah ke depan tidak hanya berorientasi pada ketertiban administrasi, tapi juga memikirkan dampak sosialnya. Mereka ingin ada skema yang mengakomodasi pengecer, misalnya melalui koperasi, pangkalan mini, atau mekanisme lain yang legal dan aman.

“Kami ingin usaha ini tetap jalan, tapi juga aman dan sesuai aturan. Rakyat kecil cuma ingin sejahtera. Itu saja,” pungkas salah satu dari mereka.

Hingga berita ini ditulis, belum ada kepastian terkait skema baru pendistribusian Pertalite yang mengakomodasi pedagang pengecer di Sampang. Para pedagang pun masih bertahan, menunggu kebijakan yang berpihak dan tidak mematikan usaha rakyat kecil.

 

 

 

Reporter : Saladin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *