Bontang – “Guru ngaji adalah penjaga cahaya Al-Qur’an di tengah masyarakat.” Kalimat penuh makna itu dilontarkan Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, saat membuka Pelatihan 500 Guru Ngaji Tahun 2025 di Masjid Fathul Khoir BSD, Gunung Elai, Bontang Utara, pada Minggu (23/11/2025). Suasana khidmat dan semangat tampak menyelimuti acara akbar yang digagas oleh LPPTKA BKPRMI Kota Bontang tersebut.
Kegiatan ini menjadi momen penting dalam peningkatan kapasitas para pendidik Al-Qur’an. Sebanyak 500 guru ngaji dari berbagai Unit TKA/TPA binaan LPPTKA BKPRMI Kota Bontang berkumpul untuk mengikuti pelatihan yang menghadirkan Direktur Nasional LPPTKA BKPRMI Pusat, Gunawan HS, serta Ketua DPD BKPRMI Bontang, Atim Prasojo, beserta seluruh jajaran dan Ketua Kelompok Kerja Ustaz/Ustazah.
Dalam sambutannya, Wali Kota menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini sebagai langkah konkret dalam membina pendidikan spiritual anak-anak sejak usia dini.
“Pelatihan ini adalah langkah nyata dalam meningkatkan kapasitas dan kompetensi para pendidik Al-Qur’an di Kota Bontang,” ujarnya dengan penuh harap.
Ia menekankan bahwa pendidikan Al-Qur’an bukan hanya mengajarkan huruf, melainkan juga membentuk karakter dan akhlak generasi muda. Pemerintah, lanjutnya, memiliki visi besar membangun sumber daya manusia berakhlak dan berdaya saing, sejalan dengan misi pembangunan Bontang.
Menurut Wali Kota Neni, keberadaan guru ngaji memiliki peran strategis dalam pemberantasan buta huruf Al-Qur’an dan membangun pondasi akhlak anak bangsa. Ia bahkan menyebut guru ngaji sebagai garda terdepan dalam menciptakan generasi Qur’ani yang cerdas dan beriman.
Sebagai bentuk dukungan konkret, ia mengumumkan peningkatan insentif bagi para penggiat agama.
“Salah satu langkah nyata yang kami ambil pada tahun ini adalah peningkatan insentif bagi Guru Ngaji dan para penggiat agama dari Rp1,1 juta menjadi Rp2 juta,” tegasnya.
Kebijakan ini, kata Wali Kota, merupakan bentuk penghargaan sekaligus investasi jangka panjang. Ia menilai bahwa kesejahteraan guru ngaji akan berbanding lurus dengan kualitas pendidikan agama di masyarakat.
Pelatihan ini pun diharapkan menjadi pemantik semangat dan inovasi para guru ngaji untuk terus mengembangkan metode pembelajaran yang relevan dan efektif, demi melahirkan generasi penerus yang kuat dalam keilmuan dan iman. (ADV)












