Bontang – Di bawah langit cerah pagi Selasa (18/11/2025), semangat adat dan kepedulian sosial berpadu dalam pembukaan Erau Adat Pelas Benua Kampong Adat Guntung Tahun 2025 yang digelar di Halaman Rumah Adat Kutai Guntung, Jalan Tari Enggang. Wali Kota Bontang, Neni Moerniaeni, secara resmi membuka kegiatan adat tahunan yang sarat makna ini dengan mengusung pesan kuat tentang pelestarian budaya dan perlindungan terhadap perempuan dan anak.
Acara pembukaan dihadiri oleh tokoh-tokoh kehormatan, termasuk Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Sultan Adji Muhammad Arifin dan Bunda Ratu Sekar Asih, serta Sultan Gunung Tabur dan Sultan Sambaliung. Tampak pula Ketua DPRD Bontang Andi Faizal, perwakilan PT Pupuk Kaltim, dan Ketua Adat Kutai Guntung Darmawi bersama elemen pemerintahan, komunitas budaya, hingga masyarakat adat.
Dalam sambutannya, Wali Kota Neni menekankan bahwa pelaksanaan Erau kali ini bertepatan dengan kampanye global 16 Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan, menjadikannya momentum strategis untuk menyuarakan isu sosial. Ia mengangkat keprihatinan atas maraknya kekerasan digital terhadap perempuan, mulai dari perundungan, pelecehan, penyebaran konten pribadi, hingga eksploitasi online yang berdampak buruk pada kehidupan korban.
“Pemerintah berkomitmen meningkatkan literasi digital yang berpihak pada korban, memperkuat layanan pengaduan, serta mendorong regulasi perlindungan perempuan dan anak,” ujarnya, seraya menambahkan pentingnya membangun budaya digital yang aman dan etis.
Selain isu sosial, Wali Kota juga menyoroti pentingnya pelestarian budaya melalui kegiatan adat seperti Erau. Ia menyampaikan bahwa pengembangan pariwisata dan event budaya seperti Bontang Festival menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi kreatif yang juga mendukung UMKM dan menurunkan angka kemiskinan, yang saat ini berada di angka 3,5 persen.
Tak hanya itu, Wali Kota menegaskan pentingnya menjaga kondusivitas wilayah Bontang, yang tetap aman di tengah situasi nasional yang penuh gejolak. Ia juga mengumumkan bahwa seluruh mahasiswa asal Bontang mendapatkan subsidi UKT hingga semester akhir sebagai bentuk investasi pembangunan sumber daya manusia.
“Saya apresiasi masyarakat Guntung yang menjaga lingkungan selama kegiatan berlangsung. Mari terus jaga persatuan dan warisan budaya kita,” tegasnya.
Sementara itu, Sultan Kutai Kartanegara yang diwakili Adji Pangeran Hario Noto Negoro menyampaikan bahwa meskipun secara administratif Bontang telah mandiri, namun secara adat tetap bagian dari wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara. Ia berharap Erau bisa terus menjadi wadah pelestarian adat dan sekaligus memberi nilai ekonomi bagi masyarakat lokal.
Sebagai bagian dari kegiatan, Wali Kota juga menyerahkan SK kelembagaan kepada Lembaga Adat Kutai Guntung, sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan kelembagaan adat di Kota Bontang.
Rangkaian Erau Adat Pelas Benua Tahun 2025 digelar dari 16 hingga 23 November, melibatkan upacara adat, pertunjukan seni budaya, pawai, serta olahraga tradisional yang menggugah semangat persatuan. (ADV).












